Buku karya Stephen R. Covey hanya dalam
beberapa minggu bisa laku 15 juta eksemplar.
Mengapa? Karena buku itu menawarkan langkah-
langkah untuk mencapai keberhasilan. Di jaman
yang susah ini, tidak hanya obat sakit kepala yang
laris, tapi juga buku-buku yang menulis tentang
kunci keberhasilan.
Keberhasilan sejati
Namun, pengertian yang lebih lengkap tentang
keberhasilan ada dalam kitab mazmur pasal
pertama. Pemazmur juga menulis bahwa
keberhasilan ditentukan oleh keberutungan atau
nasib tetapi karena kebiasaan-kebiasaan yang harus
dikembangkan dalam hidup. Selain itu, pemazmur
juga juga menulis bahwa tidak semua kberhasilan
adalah keberhasilan sejati.
Keberhasilan yang sejati, yaitu keberhasilan yang
membawa kepada kebahagiaan (ayat 3).
Sebaliknya, keberhasilan yang semu dan tidak
sejati, adalah keberhasilan yang tidak membawa
kebahagiaan (ayat 4).
Orang yang mengalami keberhasilan sejati
digambarkan hidupnya seperti pohon yang
ditanam di tepi aliran air, menghasilkan buahnya
pada musimnya, tidak layu daunnya, dan apa saja
yang diperbuatnya berhasil. Apapun kondisi
jaman, dia tetap tegar karena berada di tepi aliran
air.
Sedangkan orang yang mengalami keberhasilan
semu dan tidak sejati di gambarkan hidupnnya
seperti sekam yang ditiup oleh angin. Sesaat
sekam itu ada, tetapi ketika ditiup angin, sekam itu
lenyap, hilang tak berbekas. Keberhasilan semu
bersifat sementara.
Jelas, kita tidak ingin hidup seperti sekam yang
mudah hilang ditiup angin. Semua pasti ingin
hidup seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air.
Oleh karena itu ada kebiasaan-kebiasaan yang
harus dikembangkan supaya memiliki hidup
seperti pohon di tepi aliran air (Mazmur 1:1,2, dan
6).
Kebiasaan
Pertama, orang yang memiliki hidup seperti pohon
yang ditanam di tepi aliran air adalah orang yang
memiliki kebiasaan pergaulan yang benar (ayat 1).
Pergaulan memiliki pengaruh besar dalam
menentukan hidup kita. Oleh karena itu kita harus
berhati-hati dengan siapa kita bergaul. Bukan
maksud saya supaya kita menjadi eksklusif. Kita
tetap harus bergaul dan mengenal semua orang
supaya bisa menjadi saluran berkat Tuhan bagi
banyak orang. Tetapi kita harus berhati-hati
memilih teman akrab kita. Rasul Paulus dalam
suratnya di Korintus menulis "Pergaulan yang
buruk merusak kebiasaan yang baik".
Kebiasaan kedua yang harus dikembangkan adalah
memiliki pemikiran yang benar (ayat 2). Mutu
hidup kita tergantung dari apa yang kita pikirkan.
Kalau yang kita pikirkan adalah ha-hal yang kotor,
maka hidup kita akan kotor. Tetapi, jika kita selalu
memikirkan kebenaran, maka hidup kita akan selalu
segar. Amsal 23:7 menulis, "For as he thinketh in
his heart, so is he." Artinya sebagaimana orang
berpikir dalam hatinya, demikianlah ia.
Jagalah telinga dan mata Anda. Jangan melihat atau
membaca yang tidak seharusnya. Jangan
mendengar apa yang tidak sepantasnya. Karena
apa yang kita lihat dan dengar dapat
mempengaruhi pikiran kita. Sebaliknya, baca dan
lihatlah apa yang baik, seharusnya dan
sepantasnya.
Kebiasaan ketiga adalah perilaku yang benar. Bukan
hanya memiliki pergaulan dan pikiran yang benar
tetapi perilakunya juga harus benar. Jika kita
perilaku memuliakan nama Tuhan, hati Tuhan akan
disenangkan , dan memuncak pada satu
kesimpulan, "apa saja yang diperbuatnya berhasil".
Bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena
Tuhan berkenan kepadanya.
Bergaul dengan Tuhan
Ketiga kebiasaan itu saling berkaitan, tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Pergaulan menjadi
sangat penting karena mempengaruhi pikiran kita
dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku kita.
Dan dari semua pergaulan tidak ada pergaulan
yang lebih penting daripada bergaul dengan
Tuhan.
Seorang pelukis berusaha melukiskan kata "damai".
Pertama, ia melukis sebuah danau yang tenang,
airnya tidak bergelombang, diatasnya awan
berarak tipis. Lukisan yang elok, tetapi ia tidak
cukup puas karena belum cukup bisa
menggambarkan kata damai.
Lalu ia melukis sawah yang sedang menguning,
siap dipanen dengan latar belakang gunung
menghijau dan langit berwarna keemasan. Lukisan
itu juga indah tapi tidak cukup menggambarkan
kata "damai".
Terakhir ia melukis laut yang sedang bergelora
ditiup badai, gelombang mengamuk, badai
menerjang. Di sebelah kanan berdiri sebuah batu
karang. Kemudian pada batu karang itu dilukiskan
sebuah celah yang berwarna terang dengan seekor
burung kecil yang sedang bernyanyi di dalamnya.
Pelukis itu baru puas. Burung itu bernyanyi karena
tahu ia berada di tempat yang aman, di dalam batu
karang yang teguh dan tidak akan bergoncang,
bagaimana pun badai menerjang. Seperti itulah
hidup didalam pergaulan dengan Tuhan. Di tengah
dunia yang semakin sulit ini, kita harus bergaul
akrab dengan Tuhan. Itulah kunci keberhasilan
yang sejati.
MAHASISWA DAN KARYAWAN KERAJAAN ALLAH FULL-TIME. ONLINE MISIONARIS PART-TIME
Labels
- APA ITU ROH KUDUS? (2)
- berkat rohani (9)
- Doa Mengubah Segala Sesuatu (2)
- Group Putrianggun Lavender (1)
- kata motivasi (14)
- kata-kata motivasi (12)
- kisah nyata (2)
- Lagu Rohani (2)
- Post By Besya Mardhika Goenatio (2)
- Post By Bethany Caruban (2)
- post by Christian Belman Manurung (1)
- post by Johannes Tan (9)
- Post By Jonny Arifyanto (1)
- post by Jonny Liauw (6)
- Post By Mimin Liani (3)
- post by Priska Sweet (1)
- Post By Ragiel A Wicaksono (2)
- Post By Ranie Natalia (1)
- Renungan (18)
- renungan harian (20)
- renungan harian by CH (21)
- renungan harian satu (13)
- renungan singkat (4)
- Renungan. Gereja Bethany International Hongkong (7)
- Santapan Rohani (7)
- santapan rohani GBI BIC HK (10)
- SEBUAH KISAH (8)
Showing posts with label renungan harian satu. Show all posts
Showing posts with label renungan harian satu. Show all posts
Thursday, December 22, 2011
Monday, September 12, 2011
KEKOSONGAN
Pembacaan dari Mazm 62.
Satu kali dalam hidup saya merasakan apa yang dinamakan “kekosongan”. Mungkin Anda mengira saat itu saya adalah orang yang belum bertobat. Saya sudah bertobat, tetapi saya belum sungguh mengerti arti kehadiran TUHAN YESUS dalam hidup saya. Saya tidak dapat meraih sukacita yang ada disekeling saya, sebab saya mer...asa hidup saya “sendiri”. Layaknya sebuah puzzle yang tidak lengkap oleh karena ada bagian gambar yang hilang. Puzzle kehidupan saya yang tidak lengkap, yang hilang, yang saya tidak tahu gambar apa itu sebenarnya.
Saya mencari-cari dengan cara saya sendiri. Namun kepuasan hanya sementara. Setiap hal yang saya kerjakan, setiap hal yang saya rasa ini adalah yang potongan yang cocok pengisi bagian itu, ternyata hanya sementara. Selanjutnya saya merasakan “kekosongan”. Ketentraman, kedamaian, sukacita yang sesungguhnya tidak dapat saya temui. Yang ada hanya sementara saja.
Inilah mazmur DAUD yang membuat saya dapat menemukan potongan puzzle kehidupan yang hilang itu. Mazmur 62:2 Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku.
Menyadari kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup saya, membuat saya merasakan sesuatu yang saya cari selama ini dapat saya temukan. Potongan puzzle kehidupan yang hilang yang selalu menimbulkan “kekosongan’, kini sudah saya dapatkan. Ada ketenteraman, ketenangan,sukacita dari setiap aktivitas yang saya lakukan. Sumbernya bukanlah aktivitas itu sendiri, namun KEHADIRAN DIA yang begitu dekat, keintiman bersama DIA dalam setiap aktivitas adalah kunci semuanya itu.
Dapatkah kita menghindar dari lingkungan yang membuat kita tertekan?, dapatkah kita melarikan diri dari tanggung jawab selama hidup di dunia ini? Dapatkah kita lari dari kenyataan pahit yang sedang kita hadapi ? dan lain sebagainya keadaan yang membuat tidak nyaman. Menghindar adalah sifatnya sementara saja. Tetapi menghadapinya bersama TUHAN yang setia, menyadari dengan penuh akan kasihNYA, membuka hati dan meluangkan waktu untuk intim denganNYA, memprioritaskan DIA dalam setiap aspek, melibatkan DIA dalam setiap nafas kita. ITULAH YANG MEMBUAT KITA TENANG, DAN DAPAT MENGHADAPAI APAPUN DI HADAPAN KITA. Tanpa gentar, tanpa keluh kesah. Tetapi dengan KEKUATAN dariNYA. Dengan SUKACITA dariNYA. Dengan RASA DAMAI dariNYA, yang semua itu tidak dapat diperoleh dengan usaha kita di bumi ini. DAUD yang seorang raja, yang memiliki apa pun, tidak berkekurangan hidupnya, menyadari betul akan SANGAT BERHARGANYA KEDEKATAN DENGAN TUHAN. Bagaimana dengan kita? AKANKAH KITA MASIH BERFIKIR BAHWA TUHAN DAPAT DIGANTIKAN DENGAN HAL LAIN? MASIHKAH MENCARI PELARIAN UNTUK MENGISI APA YANG KOSONG, DENGAN HAL-HAL PEMUAS KEDAGINGAN? Catatan sederhana ini saya tuliskan pagi ini untuk kembali mengingatkan, INTIMLAH dan LIBATKAN TUHAN dalam kehidupan kita. JANGAN MENCARI PADA HAL_HAL lain sebagai pengganti. (Amin)
Wednesday, July 6, 2011
MELODI HIDUP
Mazmur 1:1-6
Mazmur berarti: melodi atau lagu pujian. Melalui mazmur, sang pengarang hendak mengajak umat bermelodi, memuji Tuhan atas bermacam-macam hal yang menjadi kenyataan hidup manusia beriman sehari-hari. Hebatnya, pujian dalam mazmur merupakan pujian yang tidak hanya berkutat pada hal-hal seputar relasi manusia dengan Allah, tetapi juga pergumulan sesama manusia. Pendek kata, semua segi kehidupan manusia beriman dapat dijadikan sebagai lagu pujian dalam peribadahan!
Di bagian awal kitab Mazmur, penulis memanjatkan pujian kepada Tuhan karena Tuhan mengenal jalan orang benar (ayat 6). Kata "mengenal" di sini merupakan terjemahan dari kata Ibrani yang berarti mengenal dengan intim; mengenal dengan sedemikian detail; mengenal sedemikian rupa hingga tak ada yang perlu ditutupi. Itulah sebabnya orang yang berjalan di jalan orang benar disebut "berbahagia". Kebahagiaan adalah anugerah yang diberikan Allah pada orang yang menjaga hidupnya benar dengan cara mencintai dan mendalami firman Tuhan sehingga hidupnya senantiasa mendapatkan asupan makanan rohani dari firman itu. Bagai pohon yang selalu segar karena ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari.
Pemazmur senantiasa menaikkan pujian indah yang didasari oleh pengenalan akan Tuhan dalam kehidupan pribadi maupun dalam pengalaman hidupnya di tengah lingkungan sehari-hari. Mari renungkan, apakah dari dalam kehidupan kita telah keluar melodi dan pujian indah yang mencerminkan kehidupan orang yang mengenal Allah
Friday, June 10, 2011
(Amsal 28:27) TAK AKAN KEKURANGAN
1 Raja-raja 17:8-16
Sekitar tahun 1964, perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan. Meski demikian, sepasang suami istri masih mengulurkan tangan untuk menolong orang yang lebih tak berpunya. Di rumah kontrakan mereka yang sangat sederhana, mereka masih menampung sebuah keluarga untuk sama-sama tinggal di situ. Sampai-sampai, mereka sendiri harus tidur berdesakan dengan sepuluh anak mereka dalam sebuah kamar. Namun, Tuhan memelihara mereka. Dan kini, setelah berpuluh tahun kemudian, anak-anak mereka memiliki kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik.
Pada zaman Elia, Tuhan bertitah tidak akan menurunkan hujan ke tanah Israel selama 3 tahun 6 bulan. Air di sungai pun menjadi kering. Tak heran, si janda Sarfat hanya memiliki sedikit tepung dan minyak untuk ia dan anaknya. Namun, karena ketaatannya kepada Tuhan dengan memberikan makanan bagi Elia, sang nabi, Tuhan memelihara hidup sang janda dan anaknya selama masa kekeringan.
Kita terkadang berpikir bahwa kita mesti menjadi kaya lebih dulu untuk dapat menolong orang lain. Namun, banyak orang sulit merasa dirinya cukup sehingga ia dapat menolong orang lain, sebab pada dasarnya manusia selalu merasa tidak puas dan berkekurangan. Sebaliknya, hati yang mau memberi dan menolong orang lain sesungguhnya tidak pernah bergantung dari berapa banyak yang dimiliki. Sebab tindakan ini lahir dari hati yang mau taat dan mengasihi Tuhan. Dan jangan khawatir, Tuhan akan memelihara orang-orang yang mengasihi Tuhan sedemikian dalam sehingga kita tak akan berkekurangan --VT
MEMBERI BUKAN HANYA KARENA KITA SUDAH BERLEBIH
NAMUN KARENA KASIH TUHAN SELALU HARUS DIBAGI
Sekitar tahun 1964, perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan. Meski demikian, sepasang suami istri masih mengulurkan tangan untuk menolong orang yang lebih tak berpunya. Di rumah kontrakan mereka yang sangat sederhana, mereka masih menampung sebuah keluarga untuk sama-sama tinggal di situ. Sampai-sampai, mereka sendiri harus tidur berdesakan dengan sepuluh anak mereka dalam sebuah kamar. Namun, Tuhan memelihara mereka. Dan kini, setelah berpuluh tahun kemudian, anak-anak mereka memiliki kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik.
Pada zaman Elia, Tuhan bertitah tidak akan menurunkan hujan ke tanah Israel selama 3 tahun 6 bulan. Air di sungai pun menjadi kering. Tak heran, si janda Sarfat hanya memiliki sedikit tepung dan minyak untuk ia dan anaknya. Namun, karena ketaatannya kepada Tuhan dengan memberikan makanan bagi Elia, sang nabi, Tuhan memelihara hidup sang janda dan anaknya selama masa kekeringan.
Kita terkadang berpikir bahwa kita mesti menjadi kaya lebih dulu untuk dapat menolong orang lain. Namun, banyak orang sulit merasa dirinya cukup sehingga ia dapat menolong orang lain, sebab pada dasarnya manusia selalu merasa tidak puas dan berkekurangan. Sebaliknya, hati yang mau memberi dan menolong orang lain sesungguhnya tidak pernah bergantung dari berapa banyak yang dimiliki. Sebab tindakan ini lahir dari hati yang mau taat dan mengasihi Tuhan. Dan jangan khawatir, Tuhan akan memelihara orang-orang yang mengasihi Tuhan sedemikian dalam sehingga kita tak akan berkekurangan --VT
MEMBERI BUKAN HANYA KARENA KITA SUDAH BERLEBIH
NAMUN KARENA KASIH TUHAN SELALU HARUS DIBAGI
Saturday, May 28, 2011
TEKUN MENAHAN TEKANAN(YAKOBUS 5:7-11)
Tekun itu banyak gunanya. Kita kerap mendengar
nasihat orangtua: "Tekunlah belajar ..." atau
"Tekunlah dalam mengerjakan sesuatu ...."
Dengan ketekunan, hasil dalam pekerjaan dan
belajar bisa dicapai dengan baik. Dan, tekun harus
dimulai dan dilatih dari sesuatu yang kecil.
Ketekunan juga berguna dalam hidup sebagai
orang percaya, sebab ada banyak tekanan yang
muncul sebagai konsekuensi dari iman yang kita
miliki. Yakobus bahkan memberi anjuran agar
umat Tuhan tidak hanya tekun bekerja, tetapi juga
tekundalam menderita. Ini bukan berarti umat
diminta memilih jalan penderitaan dan karenanya
mencari penderitaan. Bukan! Maksudnya, agar
tatkala menghadapi penderitaan, umat Tuhan
tidak menjadi patah semangat. Bahkan,
penderitaan yang dihadapi dan disikapi secara
kristiani akan menghasilkan kesaksian yang
menguatkan banyak orang. Orang akan melihat
dan belajar bagaimana kita menghadapi,
berjuang, jatuh bangun, dan menang atas
penderitaan. Sudah banyak tokoh iman yang
membuktikan bahwa ketekunan dalam
menghadapi penderitaan setidaknya
menghasilkan dua hal: kehidupan rohani yang
semakin tangguh dan keteladanan yang
memberkati hidup orang lain khususnya yang
menyaksikan pergulatan kita dengan penderitaan
itu (ayat 11).
Apakah Anda sedang menderita mungkin dalam
karier, atau studi, atau keluarga demi iman Anda?
Jika ya, ingatlah bahwa Anda sedang berada di
jalan yang sama dengan para nabi yang "telah
berbicara demi nama Tuhan" (ayat 10). Ketekunan
Anda dalam mengelola penderitaan akan menjadi
berkat bagi diri sendiri dan sesama
nasihat orangtua: "Tekunlah belajar ..." atau
"Tekunlah dalam mengerjakan sesuatu ...."
Dengan ketekunan, hasil dalam pekerjaan dan
belajar bisa dicapai dengan baik. Dan, tekun harus
dimulai dan dilatih dari sesuatu yang kecil.
Ketekunan juga berguna dalam hidup sebagai
orang percaya, sebab ada banyak tekanan yang
muncul sebagai konsekuensi dari iman yang kita
miliki. Yakobus bahkan memberi anjuran agar
umat Tuhan tidak hanya tekun bekerja, tetapi juga
tekundalam menderita. Ini bukan berarti umat
diminta memilih jalan penderitaan dan karenanya
mencari penderitaan. Bukan! Maksudnya, agar
tatkala menghadapi penderitaan, umat Tuhan
tidak menjadi patah semangat. Bahkan,
penderitaan yang dihadapi dan disikapi secara
kristiani akan menghasilkan kesaksian yang
menguatkan banyak orang. Orang akan melihat
dan belajar bagaimana kita menghadapi,
berjuang, jatuh bangun, dan menang atas
penderitaan. Sudah banyak tokoh iman yang
membuktikan bahwa ketekunan dalam
menghadapi penderitaan setidaknya
menghasilkan dua hal: kehidupan rohani yang
semakin tangguh dan keteladanan yang
memberkati hidup orang lain khususnya yang
menyaksikan pergulatan kita dengan penderitaan
itu (ayat 11).
Apakah Anda sedang menderita mungkin dalam
karier, atau studi, atau keluarga demi iman Anda?
Jika ya, ingatlah bahwa Anda sedang berada di
jalan yang sama dengan para nabi yang "telah
berbicara demi nama Tuhan" (ayat 10). Ketekunan
Anda dalam mengelola penderitaan akan menjadi
berkat bagi diri sendiri dan sesama
Monday, May 23, 2011
KEJADIAN 18: 1-15 TIADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN
Memercayai janji Allah ternyata tidak selalu
mudah, terutama ketika situasi tidak
menunjukkan tanda-tanda bahwa janji itu
digenapi. Akan tetapi, bukankah esensi iman
adalah "bukti dari segala sesuatu yang tidak kita
lihat" (Ibr. 11:1)?
Walaupun Allah telah berjanji akan memberikan
anak kepada Abraham melalui Sara (Kej. 17:16,
19), tetapi Sara sulit untuk percaya. Sebelumnya
Sara berpikir bahwa Allah hanya mementingkan
keturunan dari Abraham, jadi keturunan itu tidak
harus berasal dari rahimnya. Ini bisa dimengerti
karena sebelumnya Allah memang tidak
menegaskan siapa ibu dari anak Abraham.
Namun setelah Allah dengan tegas menolak
Ismael dan menegaskan bahwa anak yang
dimaksud harus lahir dari rahimnya (Kej.
17:18-19), Sara masih tidak percaya. Ketika Allah
mengunjungi Abraham dan menyatakan bahwa
tahun depan Sara akan mempunyai seorang anak
laki-laki, Sara tertawa dalam hatinya karena ia
sadar bahwa dirinya telah tua. Selain itu ia telah
mati haid (11-12). Jadi bagaimana mungkin ia dan
Abraham bisa mendapatkan seorang anak?
Ternyata umat Allah sangat sulit untuk percaya
bahwa Allah dapat melakukan apa yang
melampaui pemikiran manusia. Padahal Allah
sering melakukan hal-hal yang sulit diterima akal
manusia. Ia telah meruntuhkan tembok Yerikho
yang kokoh hanya dengan sorak sorai umat
Israel, membelah Laut Merah hingga umat Israel
bisa menyeberang, atau menghidupkan kembali
orang mati. Kita lihat bagaimana Allah dapat
melakukan hal-hal yang ajaib. Kita juga dapat lihat
bahwa selama tiga generasi, istri dari bapak-
bapak leluhur adalah wanita-wanita mandul: Sara,
Ribka, dan Rahel.
Kita perlu sadar bahwa kuasa Allah sungguh tidak
terbatas. Allah sanggup melakukan apa yang
mustahil bagi manusia atau apa yang berada di
luar jangkauan pemikiran manusia. Jika Allah
hanya melakukan hal-hal yang bersifat rasional,
bukankah itu berarti bahwa Ia sama dengan
manusia? Sering sekali Allah dengan sengaja
membiarkan kita dalam kesulitan yang tidak
mungkin kita atasi, supaya kita sadar bahwa tidak
ada yang mustahil bagi Allah.
mudah, terutama ketika situasi tidak
menunjukkan tanda-tanda bahwa janji itu
digenapi. Akan tetapi, bukankah esensi iman
adalah "bukti dari segala sesuatu yang tidak kita
lihat" (Ibr. 11:1)?
Walaupun Allah telah berjanji akan memberikan
anak kepada Abraham melalui Sara (Kej. 17:16,
19), tetapi Sara sulit untuk percaya. Sebelumnya
Sara berpikir bahwa Allah hanya mementingkan
keturunan dari Abraham, jadi keturunan itu tidak
harus berasal dari rahimnya. Ini bisa dimengerti
karena sebelumnya Allah memang tidak
menegaskan siapa ibu dari anak Abraham.
Namun setelah Allah dengan tegas menolak
Ismael dan menegaskan bahwa anak yang
dimaksud harus lahir dari rahimnya (Kej.
17:18-19), Sara masih tidak percaya. Ketika Allah
mengunjungi Abraham dan menyatakan bahwa
tahun depan Sara akan mempunyai seorang anak
laki-laki, Sara tertawa dalam hatinya karena ia
sadar bahwa dirinya telah tua. Selain itu ia telah
mati haid (11-12). Jadi bagaimana mungkin ia dan
Abraham bisa mendapatkan seorang anak?
Ternyata umat Allah sangat sulit untuk percaya
bahwa Allah dapat melakukan apa yang
melampaui pemikiran manusia. Padahal Allah
sering melakukan hal-hal yang sulit diterima akal
manusia. Ia telah meruntuhkan tembok Yerikho
yang kokoh hanya dengan sorak sorai umat
Israel, membelah Laut Merah hingga umat Israel
bisa menyeberang, atau menghidupkan kembali
orang mati. Kita lihat bagaimana Allah dapat
melakukan hal-hal yang ajaib. Kita juga dapat lihat
bahwa selama tiga generasi, istri dari bapak-
bapak leluhur adalah wanita-wanita mandul: Sara,
Ribka, dan Rahel.
Kita perlu sadar bahwa kuasa Allah sungguh tidak
terbatas. Allah sanggup melakukan apa yang
mustahil bagi manusia atau apa yang berada di
luar jangkauan pemikiran manusia. Jika Allah
hanya melakukan hal-hal yang bersifat rasional,
bukankah itu berarti bahwa Ia sama dengan
manusia? Sering sekali Allah dengan sengaja
membiarkan kita dalam kesulitan yang tidak
mungkin kita atasi, supaya kita sadar bahwa tidak
ada yang mustahil bagi Allah.
Friday, May 20, 2011
KERELAAN BERBAGI ADLAH TINDAKAN NYATA YG DAPAT MENYENTUH DAN MENGUBAH HIDUP SIAPA SAJA (1 TES 2:8-12)
Gerakan Indonesia Mengajar telah dimulai
beberapa waktu lalu. Sebuah gerakan
mengumpulkan dan melatih sarjana-sarjana
berprestasi yang pernah atau sedang bekerja di
perusahaan-perusahaan besar di berbagai
tempat. Mereka dikirim ke berbagai sekolah di
daerah-daerah terpencil di Indonesia untuk
mengajar selama satu tahun; membagikan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
kepada anak-anak di daerah-daerah yang sangat
kurang mendapat materi dan sarana untuk
belajar. Sebuah tindakan yang mengajarkan
prinsip kerelaan (voluntarisme).
Kerelaan melakukan suatu tugas tentu juga
dilandasi dengan kecintaan terhadap tugas yang
dijalankan. Paulus, suatu ketika melayani jemaat
Tesalonika. Namun, karena tentangan yang
datang dari kalangan Yahudi, ia mesti berpindah
ke kota lain. Dalam kondisi seperti itu, Paulus tetap
berpesan kepada jemaat Tesalonika agar mereka
mengingat perjuangan yang Paulus lakukan atas
mereka dalam kasih sayang yang besar, bukan
saja rela membagi Injil, melainkan juga rela
membagi hidupnya sendiri (ayat 8). Kerelaan
yang muncul karena Paulus mengasihi orang-
orang Tesalonika; kerelaan yang lahir karena
Paulus mencintai pekerjaan pemberitaan kabar
baik yang Tuhan percayakan.
Mengharapkan lingkungan sekitar kita menjadi
semakin baik tentu perlu tindakan nyata. Tindakan
nyata yang disertai kerelaan berbagi keterampilan,
pengetahuan, kebenaran, bahkan iman tentu akan
menghasilkan buah-buah yang matang. Apakah
kita memiliki waktu untuk berbagi dengan orang-
orang di sekitar kita? Jika sudah, apakah kita telah
membagikannya dengan rela serta dilandasi
kasih?
beberapa waktu lalu. Sebuah gerakan
mengumpulkan dan melatih sarjana-sarjana
berprestasi yang pernah atau sedang bekerja di
perusahaan-perusahaan besar di berbagai
tempat. Mereka dikirim ke berbagai sekolah di
daerah-daerah terpencil di Indonesia untuk
mengajar selama satu tahun; membagikan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
kepada anak-anak di daerah-daerah yang sangat
kurang mendapat materi dan sarana untuk
belajar. Sebuah tindakan yang mengajarkan
prinsip kerelaan (voluntarisme).
Kerelaan melakukan suatu tugas tentu juga
dilandasi dengan kecintaan terhadap tugas yang
dijalankan. Paulus, suatu ketika melayani jemaat
Tesalonika. Namun, karena tentangan yang
datang dari kalangan Yahudi, ia mesti berpindah
ke kota lain. Dalam kondisi seperti itu, Paulus tetap
berpesan kepada jemaat Tesalonika agar mereka
mengingat perjuangan yang Paulus lakukan atas
mereka dalam kasih sayang yang besar, bukan
saja rela membagi Injil, melainkan juga rela
membagi hidupnya sendiri (ayat 8). Kerelaan
yang muncul karena Paulus mengasihi orang-
orang Tesalonika; kerelaan yang lahir karena
Paulus mencintai pekerjaan pemberitaan kabar
baik yang Tuhan percayakan.
Mengharapkan lingkungan sekitar kita menjadi
semakin baik tentu perlu tindakan nyata. Tindakan
nyata yang disertai kerelaan berbagi keterampilan,
pengetahuan, kebenaran, bahkan iman tentu akan
menghasilkan buah-buah yang matang. Apakah
kita memiliki waktu untuk berbagi dengan orang-
orang di sekitar kita? Jika sudah, apakah kita telah
membagikannya dengan rela serta dilandasi
kasih?
Wednesday, May 18, 2011
HANYA PADA YESUS KITA DAPAT DIPULIHKAN( MARKUS 3:1-6)
Apabila manusia terobsesi kebencian, ia akan selalu mencari cara dan celah untuk menjatuhkan orang yang dibenci. Meskipun orang itu berbuat baik dan benar, selalu ada cara untuk membuatnya buruk. Dulu, para pemimpin Yahudi dan orang Farisi juga sangat membenci Yesus. Sebagai rabi muda yang dalam sekejap menyedot ribuan massa karena pengajaran-Nya yang penuh kuasa dan mukjizat yang Dia lakukan, Yesus menyaingi posisi mereka sebagai penentu kehidupan beragama dan masyarakat Yahudi saat itu.
Ke mana pun Yesus berada untuk mengajar dan melayani, mereka membuntuti. Mereka mencari-cari celah agar dapat mempersalahkan-Nya. Suatu kali pada hari Sabat, seorang yang lumpuh sebelah tangannya datang pada Yesus. Dia tahu orang Farisi menunggu apakah Dia akan menyembuhkan sehingga dianggap melanggar Sabat versi agama Yahudi saat itu. Namun, Yesus menyuruh si lumpuh sebelah tangan berdiri di tengah, lalu dengan penuh kuasa Dia bertanya, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat ... ?" (ayat 4). Kedengkian tersembunyi orang Farisi diungkap Yesus. Mereka sampai tak mampu menjawab-Nya sehingga Yesus menjadi marah. Sayangnya mereka tidak bertobat, malah bersekongkol dengan para Herodian, partai yang berkuasa saat itu, untuk membunuh Yesus (ayat 6).
Ya, Yesus marah jika berhadapan dengan kebencian. Akan tetapi, bagi setiap orang yang mau menghampiri-Nya, Dia berbelas kasihan. Mari datang kepada-Nya dan meminta Dia mengubah pikiran dan persepsi kita yang berdosa, agar kita lepas dari jerat kebencian --SST
KEBENCIAN MEMBUAT MATA ROHANI KITA TERBUTAKAN
HANYA PADA YESUS KITA DAPAT DIPULIHKAN
Monday, May 16, 2011
BAGI KEPENTINGAN TUHAN( YOH 9: 1-7)
Nick Vujicic, dilahirkan dengan cacat langka yang disebut tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya memiliki satu kaki kecil dengan dua jari yang tumbuh dari paha kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat. Namun, ketika sudah bersekolah, tak urung ke-kurangan fisiknya menjadi pusat olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya. Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia pernah mencoba bunuh diri.
Pada waktu Tuhan yang tepat, ia dimampukan untuk memandang hidupnya secara baru: dalam kondisinya itu, Tuhan justru dapat memakainya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan di banyak negara. "Jika saya dapat memercayai Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam keadaan Anda, " simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak pencapaian-bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang normal.
Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan kepentingan Tuhan. Apa pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Allah pun dinyatakan di dalam dia. Seperti yang Tuhan kerjakan dalam hidup Bartimeus yang buta sejak lahir. Tuhan dimuliakan lewat hidupnya. Kini giliran kita. Tujuan hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita. Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian. Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya yang kekal
SETIAP HIDUP PASTI BERGUNA
BILA DIBERIKAN MENJADI TEMPAT TUHAN BERKARYA
Tuesday, July 13, 2010
SEORANG PEMBURU
Seorang pemburu berangkat ke hutan dengan
membawa busur dan tombak. Dalam hatinya
dia berkhayal mau membawa hasil buruan
yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara
berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau
jaring penjerat, tetapi menunggu di balik
sebatang pohon yang memang sering dilalui
oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar
besar kesiangan terbang hinggap di atas
pohon kecil tepat di depan si pemburu.
Dengan ayunan parang atau pukulan gagang
tombaknya, kelelawar itu pasti bisa
diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir,
"untuk apa merepotkan diri dengan seekor
kelelawar? Apakah artinya dia dibanding
dengan seekor rusa besar yang saya incar?"
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat.
Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan
menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia
berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah
tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama
pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar
langkah-langkah kaki binatang mendekat,
pemburupun mulai siaga penuh, tetapi
ternyata, ah..... kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia
menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat,
sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah
sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu
sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia
sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir
menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak,
"Rusa......!!!" sehingga rusanya pun kaget dan
lari terbirit-birit sebelum sang pemburu
menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa
membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme
terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang
diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi
dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami.
Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil
dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir
bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh
sesuatu yang berharga.
Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan
pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan
apa-apa. Demikian juga dengan seseorang
yang bergumul dengan pasangan hidup yang
mengharapkan seorang gadis cantik atau
perjaka tampan yang baik, pintar dan
sempurna lahir dan batin, akhirnya harus puas
dengan tidak menemukan siapa-siapa.
Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa
pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya
perlu mempunyai harapan dan idealisme
supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita
ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar
manusia dengan perkara-perkara kecil terlebih
dahulu sebelum mempercayakan perkara
besar, dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia
yang perfect yang memenuhi semua
idealisme kita.
Lukas 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-
perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-
perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar
dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar." Amin.
GOD Bless Us.~
membawa busur dan tombak. Dalam hatinya
dia berkhayal mau membawa hasil buruan
yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara
berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau
jaring penjerat, tetapi menunggu di balik
sebatang pohon yang memang sering dilalui
oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar
besar kesiangan terbang hinggap di atas
pohon kecil tepat di depan si pemburu.
Dengan ayunan parang atau pukulan gagang
tombaknya, kelelawar itu pasti bisa
diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir,
"untuk apa merepotkan diri dengan seekor
kelelawar? Apakah artinya dia dibanding
dengan seekor rusa besar yang saya incar?"
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat.
Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan
menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia
berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah
tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama
pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar
langkah-langkah kaki binatang mendekat,
pemburupun mulai siaga penuh, tetapi
ternyata, ah..... kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia
menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat,
sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah
sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu
sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia
sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir
menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak,
"Rusa......!!!" sehingga rusanya pun kaget dan
lari terbirit-birit sebelum sang pemburu
menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa
membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme
terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang
diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi
dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami.
Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil
dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir
bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh
sesuatu yang berharga.
Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan
pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan
apa-apa. Demikian juga dengan seseorang
yang bergumul dengan pasangan hidup yang
mengharapkan seorang gadis cantik atau
perjaka tampan yang baik, pintar dan
sempurna lahir dan batin, akhirnya harus puas
dengan tidak menemukan siapa-siapa.
Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa
pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya
perlu mempunyai harapan dan idealisme
supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita
ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar
manusia dengan perkara-perkara kecil terlebih
dahulu sebelum mempercayakan perkara
besar, dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia
yang perfect yang memenuhi semua
idealisme kita.
Lukas 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-
perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-
perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar
dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar." Amin.
GOD Bless Us.~
Monday, July 12, 2010
KESETIAAN
Selain setia kepada Tuhan, kita juga harus setia
kepada pasangan kita baik calon pacar, pacar,
maupun istri/suami kita. Konsep dunia baik
melalui contoh para artis dan lagu “Putus
Nyambung” sudah meracuni pikiran dan sikap
kita tentang makna komitmen.
Bagi banyak orang, pacaran dan pernikahan
hanyalah senang-senang saja, sehingga tidak
heran, putus nyambung dan perceraian begitu
akrab di telinga mereka. Perzinahan telah
menjadi kegemaran mereka.
Kita sebagai anak Tuhan harus tampil beda dari
dunia. Anak Tuhan harus menunjukkan
bahwa mereka adalah pengikut Kristus yang
TIDAK akan mau berzinah dengan
pasangannya. Mereka akan menjaga jarak jika
salah satu mereka didekati oleh lawan jenis.
Contoh jika seorang cowok dan cewek lagi
berhubungan dekat untuk menjadi pacar
(ataupun sudah jadian), maka jika ada cowok
lain yang mencoba mendekati si cewek ini
dengan alasan apa pun, si cewek harus cepat
berhati-hati. Si cewek harus bisa
menempatkan diri khususnya dengan lawan
jenis. Jika si cewek menganggap teman lawan
jenisnya hanya sebagai teman dan tidak ada
rasa apa pun, maka si cewek harus berani
menjaga sikap. Jangan sampai sudah pacaran,
si cewek masih gemar berjalan berdua dengan
teman lawan jenisnya (bukan pacar), lalu ketika
ditanya sang pacar, si cewek selalu berkelit,
“ Itu hanya teman” (padahal dalam hati, si
cewek juga naksir si cowok ini). Ini bukan
masalah cemburuan, tetapi ini masalah
komitmen.
Kalau Anda sebagai anak muda sudah berani
menjalin sebuah komitmen serius (masa
pedekate/PDKT, pacaran, atau bahkan
pernikahan), ya jalankan komitmen itu,
setialah, dan jangan menyakiti hati pasangan
Anda. Kalau Anda ingin pasangan Anda setia,
maka Anda terlebih dahulu harus
membuktikan kesetiaan Anda. Jangan suka
menuntut orang lain untuk setia kepada Anda.
Anda yang harus pertama kali setia dengan
pasangan Anda.
Pergaulan sekarang telah meracuni banyak
anak Tuhan, biarlah kita sebagai anak Tuhan
yang takut akan Tuhan tidak mau dipengaruhi
oleh konsep-konsep tersebut.
Tuhan Memberkati..
kepada pasangan kita baik calon pacar, pacar,
maupun istri/suami kita. Konsep dunia baik
melalui contoh para artis dan lagu “Putus
Nyambung” sudah meracuni pikiran dan sikap
kita tentang makna komitmen.
Bagi banyak orang, pacaran dan pernikahan
hanyalah senang-senang saja, sehingga tidak
heran, putus nyambung dan perceraian begitu
akrab di telinga mereka. Perzinahan telah
menjadi kegemaran mereka.
Kita sebagai anak Tuhan harus tampil beda dari
dunia. Anak Tuhan harus menunjukkan
bahwa mereka adalah pengikut Kristus yang
TIDAK akan mau berzinah dengan
pasangannya. Mereka akan menjaga jarak jika
salah satu mereka didekati oleh lawan jenis.
Contoh jika seorang cowok dan cewek lagi
berhubungan dekat untuk menjadi pacar
(ataupun sudah jadian), maka jika ada cowok
lain yang mencoba mendekati si cewek ini
dengan alasan apa pun, si cewek harus cepat
berhati-hati. Si cewek harus bisa
menempatkan diri khususnya dengan lawan
jenis. Jika si cewek menganggap teman lawan
jenisnya hanya sebagai teman dan tidak ada
rasa apa pun, maka si cewek harus berani
menjaga sikap. Jangan sampai sudah pacaran,
si cewek masih gemar berjalan berdua dengan
teman lawan jenisnya (bukan pacar), lalu ketika
ditanya sang pacar, si cewek selalu berkelit,
“ Itu hanya teman” (padahal dalam hati, si
cewek juga naksir si cowok ini). Ini bukan
masalah cemburuan, tetapi ini masalah
komitmen.
Kalau Anda sebagai anak muda sudah berani
menjalin sebuah komitmen serius (masa
pedekate/PDKT, pacaran, atau bahkan
pernikahan), ya jalankan komitmen itu,
setialah, dan jangan menyakiti hati pasangan
Anda. Kalau Anda ingin pasangan Anda setia,
maka Anda terlebih dahulu harus
membuktikan kesetiaan Anda. Jangan suka
menuntut orang lain untuk setia kepada Anda.
Anda yang harus pertama kali setia dengan
pasangan Anda.
Pergaulan sekarang telah meracuni banyak
anak Tuhan, biarlah kita sebagai anak Tuhan
yang takut akan Tuhan tidak mau dipengaruhi
oleh konsep-konsep tersebut.
Tuhan Memberkati..
Wednesday, July 7, 2010
MEMULAI DAN MENGAKHIRI / STARTING AND ENDING
MEMULAI DAN MENGAKHIRI / STARTING AND
ENDING
Galatia 3:3 Adakah kamu sebodoh itu ? Kamu
telah mulai dengan Roh, maukah kamu
sekarang mengakhirinya di dalam daging ?
Permulaan sangat menentukan keberhasilan
yang dicapai oleh oleh seseorang. Bagi
seorang mahasiswa, hasil maksimal yang
dicapai pada semester pertama seperti
memberikan kekuatan lebih untuk menempuh
mata kuliah pada smester berikutnya. Bagi
sepasang pengantin, permulaan yang baik
ketika memasuki pernikahan memberikan
dampak yang sama. Namun, hal lain yang
tidak kalah pentingnya adalah menjalani serta
menyelesaikan apa yang sudah dimulai
dengan baik. Rasul Paulus menasihatkan untuk
kita menyelesaikan apa yang sudah dimulai
dari Roh. Memulai sesuatu dari roh secara
sederhana berarti adanya proses melibatkan
Tuhan ketika memulai suatu hal,
mendengarkan nasihat firman Tuhan, serta
menyelesaikan dengan kekuatan dan anugerah
Tuhan. Hal ini dapat diterapkan dalam segala
segi kehidupan, baik urusan pribadi, keluarga,
pekerjaan atau pelayanan. Berlawanan dengan
hal itu adalah melakukan sesuatu dengan
kekuatan sendiri, mengandalkan hikmat
manusia, serta mengabaikan tuntunan
RohKudus.
Sampai sekarang tentu sudah banyak hal yang
kita mulai. Bersyukurlah kalau kita telah
memulai sesuatu dengan baik. Namun jangan
berkecil hati untuk permulaan yang kurang
menyenangkan. Allah sanggup mengubahnya
menjadi kebaikan bagi kita. Marilah kita berjalan
dalam pimpinan Roh Kudus dan kebenaran
firmanNYA, maka Dia akan berkarya dalam
kehidupan kita.
GOD BLESS
STARTING AND ENDING
Galatians 3:3 Are you so stupid? You have
begun with the Spirit, would you now end in
the flesh?
Beginnings are critical success achieved by the
individual. For one student, who achieved
maximum results in the first half as giving
more power to pursue subjects in the next
smester. For the bridal couple, a good start
when entering the marriage to give same
effect. However, another thing that is not less
important is to go through and finish what
had started well. The apostle Paul counseled
for us to finish what has been started from the
Spirit. Starting something from the spirit
simply means the process involving the Lord
when you start something, listen to the word
of God, and finish with strength and grace of
God. This can be applied in all facets of life,
whether personal, family, work or service.
Contrary to this is to do something with our
own strength, relying on human wisdom, and
guidance RohKudus ignore.
Until now of course have a lot of things we
started. Be thankful if we had started
something good. But do not be discouraged
to start a less pleasant. God can turn it into
good for us. Let us walk in the leadership of
the Holy Spirit and the truth of His Word, then
He will work in our lives.
God Bless
ENDING
Galatia 3:3 Adakah kamu sebodoh itu ? Kamu
telah mulai dengan Roh, maukah kamu
sekarang mengakhirinya di dalam daging ?
Permulaan sangat menentukan keberhasilan
yang dicapai oleh oleh seseorang. Bagi
seorang mahasiswa, hasil maksimal yang
dicapai pada semester pertama seperti
memberikan kekuatan lebih untuk menempuh
mata kuliah pada smester berikutnya. Bagi
sepasang pengantin, permulaan yang baik
ketika memasuki pernikahan memberikan
dampak yang sama. Namun, hal lain yang
tidak kalah pentingnya adalah menjalani serta
menyelesaikan apa yang sudah dimulai
dengan baik. Rasul Paulus menasihatkan untuk
kita menyelesaikan apa yang sudah dimulai
dari Roh. Memulai sesuatu dari roh secara
sederhana berarti adanya proses melibatkan
Tuhan ketika memulai suatu hal,
mendengarkan nasihat firman Tuhan, serta
menyelesaikan dengan kekuatan dan anugerah
Tuhan. Hal ini dapat diterapkan dalam segala
segi kehidupan, baik urusan pribadi, keluarga,
pekerjaan atau pelayanan. Berlawanan dengan
hal itu adalah melakukan sesuatu dengan
kekuatan sendiri, mengandalkan hikmat
manusia, serta mengabaikan tuntunan
RohKudus.
Sampai sekarang tentu sudah banyak hal yang
kita mulai. Bersyukurlah kalau kita telah
memulai sesuatu dengan baik. Namun jangan
berkecil hati untuk permulaan yang kurang
menyenangkan. Allah sanggup mengubahnya
menjadi kebaikan bagi kita. Marilah kita berjalan
dalam pimpinan Roh Kudus dan kebenaran
firmanNYA, maka Dia akan berkarya dalam
kehidupan kita.
GOD BLESS
STARTING AND ENDING
Galatians 3:3 Are you so stupid? You have
begun with the Spirit, would you now end in
the flesh?
Beginnings are critical success achieved by the
individual. For one student, who achieved
maximum results in the first half as giving
more power to pursue subjects in the next
smester. For the bridal couple, a good start
when entering the marriage to give same
effect. However, another thing that is not less
important is to go through and finish what
had started well. The apostle Paul counseled
for us to finish what has been started from the
Spirit. Starting something from the spirit
simply means the process involving the Lord
when you start something, listen to the word
of God, and finish with strength and grace of
God. This can be applied in all facets of life,
whether personal, family, work or service.
Contrary to this is to do something with our
own strength, relying on human wisdom, and
guidance RohKudus ignore.
Until now of course have a lot of things we
started. Be thankful if we had started
something good. But do not be discouraged
to start a less pleasant. God can turn it into
good for us. Let us walk in the leadership of
the Holy Spirit and the truth of His Word, then
He will work in our lives.
God Bless
Friday, June 25, 2010
Sang Profesor
Seorang Profesor yang mengajar etika
disebuah universitas terkemuka sedang
menghadiri sebuah konvensi. Saat makan
siang di restoran, ia terlibat diskusi yang
mendalam dengan seorang dosen lain yang
mengajar filsafat. Sebelum meninggalkan meja
makan, sang professor memasukkan sendok
dan garpu perak ke saku bajunya. Melihat
wajah rekannya yang penuh tanda tanya, ia
menjelaskan: “Saya mengajar tentang Etika,
tetapi saya membutuhkan sendok2 ini”.
Melalui pekerjaannya Sang professor dibayar
untuk mengajarkan prinsip2 tentang yang
benar dan yang salah kepada mahasiswa-
mahasiswanya. Namun di luar jam mengajar,
ia gagal menerapkan prinsip2 yang telah
diajarkannya..GBUs. !”
disebuah universitas terkemuka sedang
menghadiri sebuah konvensi. Saat makan
siang di restoran, ia terlibat diskusi yang
mendalam dengan seorang dosen lain yang
mengajar filsafat. Sebelum meninggalkan meja
makan, sang professor memasukkan sendok
dan garpu perak ke saku bajunya. Melihat
wajah rekannya yang penuh tanda tanya, ia
menjelaskan: “Saya mengajar tentang Etika,
tetapi saya membutuhkan sendok2 ini”.
Melalui pekerjaannya Sang professor dibayar
untuk mengajarkan prinsip2 tentang yang
benar dan yang salah kepada mahasiswa-
mahasiswanya. Namun di luar jam mengajar,
ia gagal menerapkan prinsip2 yang telah
diajarkannya..GBUs. !”
Subscribe to:
Posts (Atom)


